Bermula cerita ini di awal pandemi covid-19, sekitar awal bulan Maret tahun lalu di kota Al Madinah Al Munawwaroh. Kasus pertama tercatat. Akhirnya semua kegiatan pun dirumahkan, semua berubah menjadi online.

“Terkurung” untuk waktu yang lama di rumah Syaikh Khalid Ats Tsubaiti, hafizhahullah, jadi catatan tersendiri, semenjak awal kegiatan belajar hanya melalui layar gepeng.

Belajar Minum ‘Kurkum’

Situasi pandemi yang tak menentu dan baru dirasakan, secara manusiawi, tentu terkadang terbesit di hati akan kekhawatiran pastinya. Namun, tetap kunci utamanya adalah ikhtiar, berdoa dan tawakkal. Itu konsep seorang muslim.

Covid 19 -yang kata para ahli- menyerang sistem imun di dalam tubuh kita, tentu salah satunya dengan menguatkannya. Agar tak rentan terpapar. Begitu kata mereka. Bukan kata saya.

Salah satu ikhtiar yang dilakukan keluarga Ats Tsubaiti, konsumsi immune booster, yang dipilih dari rempah-rempah alami. Salah satunya larutan kurkum (bahasa arab) dengan madu. Itu jadi minuman pendamping, dan yang menjadi semakin rutin hingga mengganti Qohwah Arabiyyah – sebagai menu utama – ketika berbuka puasa. Hehe.

Aku yang terkurung di rumah beliau pun, ‘dipaksa’ mengikuti aturan main yang berlaku di rumahnya, termasuk persoalan makan dan konsumsi “Kurkum” ini.

Menu Ifthor : Minuman “Kurkum”

Disclaimer : Ini hanya sekedar berbagi pengalaman ya dan tentu alangkah baiknya silakan dicek ke para ahlinya ya.

“Kurkum” ini bukan bahan yang mudah dicari di Madinah. Keliling dari satu baqolah (baca : toko kelontong) ke baqolah lain, terutama baqolah Indonesia atau Asia Tenggara, di saat pandemi, pergerakan barang antar negara pun terbatas. Alhamdulillah ala kulli haal. Sedikit, namun cukup.

Di Indonesia kita ini, MasyaAllah, Kurkum ini berlimpah. Mungkin dari sisi kajian ekonomi, bisa jadi komoditas ekspor. Siapa tau kan ada peluang? Hehe.

Saya seorang pengidap sinusitis yang cukup akut. Berbagai ikhtiar pengobatan sudah dicoba, termasuk yang terakhir pengobatan dengan terapi lintah. Nah, sejujurnya semenjak pulang ke Indonesia, belum lagi mencoba mengonsumsi kembali kunyit. Tapi, dari berbagai ikhtiar pengobatan belum ada yang rasanya cukup efektif.

Alhamdulillah dengan izin Allah, setelah kembali mengonsumsi kunyit, dengan campuran-campuran beberapa bahan lain, seperti lemon atau jeruk nipis, dan madu, misalnya, ini alternatif yang cukup efektif.

Kalau searching jurnal-jurnal ilmiah banyak ahli yang sudah membahas manfaat dari kurkum sebetulnya. Inilah yang kita kenal dengan kunyit.

Join the Conversation

2 Comments

  1. MasyaaaAllaah Tabarakallahu,
    Ternyata Kurkum itu kunyit ya…

    Kunyit , InsyaaAllaah , juga ampuh untuk penyakit lambung ( magh )

    Alhamdulillah di sini melimpah yaa, bahkan ada kunyit putih kata nya lebih bagus, wallahu’alam

    Syukron jazakallah khoir sharing nya Ustadz Afif Hafidzahullaah…

    Barakallahu fiikum jami’an

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *