Uncategorized

Bersamamu, Nahwu

“Fif, coba baca ini…” begitu beliau menyodorkan sebuah kitab berkhot tsuluts. Dahi ini mengernyit, bingung ku dibuatnya. Padahal ternyata itu hanya sebuah judul kitab, kitab dasar pula. Malu pastinya, padahal waktu itu sudah naik ke tingkat 3 (kelas 2 SMP) di pondok @albinaa.ibs. Mungkin bahasa muka beliau bisa diterjemahkan seperti ini, “Lho! Kamu sudah dua tahun di pesantren, kok gak bisa baca ini?”.

Ternyata, beliau ambil lagi kitab itu, “Kalau begitu, baca yang ini deh,” sambil membuka beberapa halaman kitab itu. Lidah ku terbata-bata mengeja harokat dari huruf akhir. Beliau tersenyum.

“Boleh lah kamu ikut lomba atau olimpiade ini itu, tapi harus seimbang, justru ini yang paling penting, anak pesantren ya baca kitab.”

Rahimahullah rahmatan wasi’ah, beliau yang ku panggil uak (bahasa sunda, panggilan untuk ayah atau ibu), yang jadi salah satu motivator penyemangat sampai hari ini, tepatnya jadi titik balik. Beliau, Dr. Umay M. Dja’far Shiddieq, semoga Allah memberi rahmat dan ampunan kepada beliau dan kita semua, serta menerima segala amal kebaikan beliau. Rahimahullah rahmatan wasi’ah.

Ceritanya bersambung…

Nah, Libur Shoifiyyah (libur musim panas) kali ini, kita mau murojaah kitab al Muyassar fii ‘ilmin Nahwu, karyanya Kiai Aceng Zakaria hafizhahullah ta’ala. Yuk murojaah bareng, karena masih social distancing, kita ketemu di dunia maya ya. Gabung di link ini ya.

Bukan sekedar belajar kaidah i’rob di dalam bahasa Arab, tapi kita juga akan belajar untuk praktiknya. Fokus kita untuk sesi ini, tak keluar dari kitab Al Muyassar, murojaah bareng pelajaran Nahwu yang sudah kita pelajari.

Gimana cara belajarnya? Semua kegiatan kita untuk sementara ini sistemnya online dan interaktif, melalui grup WhatsApp dan Google Meet/Zoom.

Nah, Buat yang berpikir Nahwu itu susah.
Tenang kawan! Nahwu gak seserem itu kok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *