Uncategorized

Booster di Tengah Pandemi

Alhamdulillah, awalan wa akhiran. Pertemuan singkat dan sederhana itu menjadi booster untuk kami, teman-teman alumni Al Binaa yang sedang menempuh studi di kawasan Timur Tengah Afrika (Mesir, Saudi Arabia, dan Turki).

Kemarin lusa, Jumat, 12 Februari 2021, melalui room meeting via zoom. Pertemuan yang singkat itu tentu belum menghilangkan dahaga rindu kami, terutama sosok beliau hafizhahullah, ayahanda dan guru kami, Al Ustadz Aslam Muhsin. Nasehat dan semangat beliau selalu kami jadikan bekal penting, juga tentu nasehat emas dari asatidzah yang lain.

Melalui majlas yang sangat singkat itu, cukup rasanya sebagai booster untuk charging semangat baru, di semester baru ini. (terutama, bagi kami yang kuliah di Saudi Arabia. Adapun untuk teman-teman di Mesir mereka justru akan menghadapi UAS, semoga Allah mudahkan).

Al Ustadz Aslam Muhsin Hafizhahullah

Nasehat demi nasehat, baik dari Ustadz Aslam maupun dari asatidzah lainnya yang ikut dalam majlas online itu. Berikut kami coba urai kembali di sini, semoga ada kebaikan yang bisa ditularkan.

Tentang Ikhlash

Ikhlash itu bukan artinya membutakan mata dan hati, namun sejatinya keikhlashan itu mengclearkan apa yang terlihat oleh mata. Meskipun belum terlihat hari itu, namun hati sudah bisa mengatakan apa yang dilihat oleh mata di waktu yang akan datang. Itulah yang akan menuntun dan memudahkan jalan yang kita lalui, untuk meringankan beban yang kita pikul.

Tanpa itu, yang dilihat oleh mata secara lahiriyyah terkadang membengkokan apa yang menjadi niat kita dari awal. Tentu diiringi oleh kekuatan bashiroh hati kita. Apa yang belum terlihat hari ini, insyaAllah akan terlihat. Jembatannya pun harus dibangun dahulu, yaitu tentang keikhlashan.

Kekuatan Bashiroh Hati

Bukan tentang jumlah dan kuantitas, namun seberapa besar dan maksimal apa yang menjadi risalah seorang mu’alimunnaas al khoir (sosok yang mengajarkan ummat manusia tentang kebaikan). Kekuatan itu memang bukan kita yang mewujudkan, namun Allah yang memudahkan.

Sosok Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah ta’ala, ketika beliau ditanya tentang muridnya yang lebih sedikit dari pada murid syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah ta’ala, yang ketika itu diadakan kajiannya secara bersamaa. Beliau berkata, “ini semua karena karunia Allah, yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.”

Tapi kita coba lihat bagaimana buah dari keikhlasan beliau hari ini, bagaimana apa yang dipahami kaum muslimin ahlusunnah wal jama’ah hari ini, di seluruh penjuru dunia, hampir tidak ada yang tidak kenal dengan beliau.

Bagi beliau dengan bashirah hati, terlihat jelas segala persoalan, meskipun bagi orang yang lain -yang dengan penglihatannya yang normal– malah samar dan tak jelas. Namun semua clear di hadapan beliau. Rahimahullah.

Jangan Tengok Kanan Kiri

Jalan yang sudah ditempuh, harus terus dijaga. Jangan sampai tengok kanan kiri. Ilmu, ya ilmu. Dan ilmu itu adalah keberkahan. Namun, keberkahannya tak bisa berdiri sendiri. Semua harus diiringi dengan syaratnya, salah satunya tentang keikhlasan.

Ilmu lah yang menjaga, ilmu lah yang membimbing, tentu kalau dibangun dengan pondasi benar. Bukan justru malah dihancurkan.

Semangat Tak Boleh Pudar

Keadaan hari ini, tidak lah membuat seorang mukmin itu kabur dan pudar tentang tujuannya yang mulia. Kalau lah Allah memberikan suatu kesulitan, sebenarnya pintu solusinya itu bukan hanya satu, namun banyak pintunya. Begitu lah kaidah dasarnya.

Semangat pun jangan sampai pudar. Ilmu ya ilmu, wasilah dan perantara sudah begitu beragam, dan jalan pun begitu banyak.

Memang hari ini kita betul-betul diuji, tentang keikhlashan. Terutama dalam belajar dan ibadah. Maka jagalah semangat itu

Dunia Seorang Muslim

Tak boleh tak pede (percaya diri), seorang muslim dengan apa yang dihadapinya tentang dunia.

Allah ta’ala berfirman,

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ (القصص :77)

“Dan carilah negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, namun janganlah engkau lupakan bagian di dunia dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sungguh Allah tidak menyukai oleh yang berbuat kerusakan.”
(QS. Al Qosas : 77)

Di antara maksud penggalan dari ayat ini, وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا, adalah beramal di dunia untuk akhiratmu.

Kita beramal, sebagai hamba-Nya, dengan berbagai macam spesialisasi bidang keilmuan, namun itu semua diwujudkan di dunia untuk mencapai dunia akhirat. Ummat ini pun butuh terhadap sosok-sosok itu, bahkan sampai hampir menjadi fardhu kifayah. Ummat ini butuh sosok-sosok itu yang tentu mereka juga berdiri atas manhaj yang haq. Sebagai muslim sejati. Sehingga keilmuan itu bisa bermanfaat untuk kaum muslimin, bangsa, dan negara.

Semoga Allah selalu bimbing kita dengan hidayah dan taufiq-Nya.
Jakarta, 14 Februari 2021.

2 thoughts on “Booster di Tengah Pandemi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *