Our Experience

Lebaran (Gak) Mudik

Lebaran kali ini paling beda, lebaran paling sepi, yang merantau pun tak bisa mudik, eh pulang kampung maksudnya. Masing-masing punya cara berbeda buat merayakan kegembiraan ini, seminimalnya masakan lebaran wajib ada di hidangan. Opor misalnya, rendang, atau ketupat, kalau ala penduduk Madinah, minimal nasi kambing kabsah.

Ini yang kedua kalinya, lebaran jauh dari rumah, sejauh kurang lebih 8000 km. Dulu tahun 2018, pertama kalinya lebaran idul fitri di negeri orang, jauh dari Papa Mama. Waktu itu masih asing betul, gak punya siapa-siapa. Bahasa Arab juga masih gak lancar. Alhamdulillah waktu itu ada Ustadz @Yahya dan Abang-abang (yang sekarang sudah jadi keluarga) yang ikut lebaran jauh-jauh ke Madinah, abang Arif dan abang Hanif.

Di tahun ini pun demikian. Walaupun teknologi sudah secanggih hari ini, tetap tak bisa menggantikan hangatnya pelukan mereka yang tercinta, canda dan tawa sepanjang hari dengan segala hidangan spesial di lebaran. Ya, kali ini silaturahmi itu hanya sebatas tegur di balik layar, berpelukan jarak jauh, melepas rindu.

Setidaknya, mereka sudah cukup membuat kami di sini seperti di rumah, sebagai bagian keluarga besar Dr. Khalid Tsubaiti, hafizhahullah. Tentu, perjalanan ini sudah cukup panjang. Selama hampir 3 bulan ikut dikarantina di rumah beliau, karena memang beliau yang menjemput. Semoga Allah balas segala kebaikan mereka.

Ya, semua dari kita, merasakan lebaran yang berbeda. Tapi, gembira menyambutnya sebagai syi’ar agama ini, perlu kita jaga. Masing-masing punya caranya. Ada yang di rantau, tak bisa pulang kampung, eh mudik maksudnya. Ada yang sedang bertugas mengemban amanah. Semoga kita jadi lebih kuat melewati ini semua.

Jadi apapun itu pastinya harus disyukuri, yang sedikit akan ditambah. Serta perlu sabar apapun itu keadaan kita. Yakin, semua akan hikmahnya. Semoa

Untukmu, sehat-sehat terus ya.

Dapip, di Madinah 4 Syawwal 1441

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *