Uncategorized

Pulang Mau ‘Ngapain’

“Mudah-mudahan besuk pagi subuhan bisa ketemu, saya di hotel …” – Jumat menjelang Maghrib, begitulah jawaban prof. Imam ketika ku tanya kesedian beliau untuk berjumpa.

Esok harinya, tepat pukul 05.39, “subuh ini saya di lantai paling atas. Afifi subuhan di masjid bagian mana?” begitu pesan beliau melalui WhatsApp. Sayangnya pesan itu baru masuk setelah dapat sinyal, setelah shubuhan di masjidil harom, kurang lebih pukul 06.25, karena posisi sinyal di lantai dasar sangat lemah.

“Afif di lantai dasar pak prof, kita bisa bertemu di mana pak prof setelah shubuhan ini?” segera ku balas pesan beliau. Namun tak kunjung berubah menjadi biru juga dua centang itu.

“Kalau beliau di sath (Bahasa arab : teras atas, atap), mungkin akan turun melalui eskalator ini, ditunggu saja deh,” begitu kata batinku, sambil melihat-lihat beliau di antara kerumunan orang yang turun melalui salah satu pintu di bagian masjid perluasan Raja Fahd.

Tak lama, sosok itu pun terlihat turun melalui ekskalator, mendekati pintu masjid. Bergegas ku hampiri beliau.

“Prof Imam, Assalamualaikum… ini Afifi pak prof. Bagaimana kabarnya pak prof? sehat pak prof?”

“Eh, walaikumussalam warahmatullah, ketemu di sini kita. Tadi saya sudah wa sampean. Alhamdulillah. Afifi gimana? Sama siapa? Di mana hotelnya?” begitu tanya beliau dengan serentetan pertanyaan.

“Sini-sini, kita ambil foto dulu, saya kirim ke Ayah sampean, supaya senang dia. Kita laporan dulu.” Ber-selfie-lah akhirnya.

Ada pesan implisit setelah beliau tanya-tanya tentang perkuliahan di Madinah, pesan beliau…

“Selalu jaga kemurnian hati. Apalah arti ilmu tanpa kemurnian itu?

Prof. Dr. Imam Suprayogo (rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, 1997 – 2013.

***

Setelah ngobrol ngalor ngidul ala prof. Imam, tanya ini, tanya itu, tiba-tiba beliau menembak dengan sebuah pertanyaan, “Kalau begitu, nanti, sampean pulang mau ngapain?” sambil berjalan pelan menuju hotel di bawah Zam-Zam Tower. Kaget juga dengan tembakan pertanyaan beliau ini. Mungkin serasa ngadepi pertanyaan professor penguji di meja sidang.

“Begini prof…” jawabku. Ku jawab apa adanya sesuai dengan yang ada di pikiran. Tambah-tambah, kurang kurang dikit lah. Hehe.

Setelah dipikir-pikir, kita di sini mau apa sih? Terus nanti apa terobosan-terobosan yang akan dibawa pulang? Apa kontribusi kita buat bangsa dan negara? Terpikir begitu gak sih? Kadang terlalu ada dalam posisi ternyaman, berbahaya juga. Kita kurang awas, kurang inovasi, kurang ide. Begitulah keadaan kita hari ini, realitanya tak bisa dipungkiri. Coba merenung deh dalam-dalam.

Biar lah itu jadi cita dan rahasia antar kita saja ya, yang lain dibisiki boleh. Mungkin ikut tersadar.

Wah, sebelum diskak dan diberondong pertanyaan-pertanyaan lain, saya tanya balik saja beliau, “Saya boleh tanya pak prof? Profesor Imam kan seorang akademisi, saya pun hari ini masih menempuh jalur itu. Menurut pak prof, apa urgensinya itu pak prof. Sampai s-san banyak itu pak prof…” sambil mencoba gaya bicara beliau, suka berkelakar, tapi serius pun iya.

“Yaa, itu ada gunanya juga, ya… minimal-minimalnya, Anda punya alat untuk berkomunikasi dan berbicara di depan orang,” jawab beliau dengan logatnya yang tercampur aksen wong Jowo.

“Tapi ya, bisa di sana (di Indonesia) juga kok, lebih cepat, toh belajar (jalur akademisi) sama saja toh. Ya kan?” aku jawab dengan anggukan.

Kepiawaiannya dalam berdialog boleh diacungi jempol, terutama ilmu beliau menaklukan orang-orang Arab, hehe. Padahal bahasanya pun ya, biasa saja. Tak punya latar belakang pondok, tapi semangatnya boleh diacungi jempol. Di era beliau lah, program wajib asrama untuk mahasiswa UIN Malang, supaya bisa mendalami Bahasa arab lebih.

Kemudian, leadership yang beliau punya, hingga bisa membangun kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dari yang statusnya hanya sebatas STAIN, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri. Allahumma baarik, dan tercapai dalam waktu yang relatif singkat, 10 tahun.

Masih banyak sebetulnya pertanyaan-pertanyaan yang ingin digali dari beliau. Banyak yang cukup membuatku kagum, diantaranya keistiqomahan beliau dalam menulis (terutama ketika beliau menjabat sebagai rektor UIN Malang). Prestasinya pun level MURI, Museum Rekor Indonesia, yaitu rektor yang menulis artikel di website terlama, selama tiga tahun tanpa jeda. Allahu akbar, waktu itu jumlah artikel yang sudah diterbitkannya pun hampir menembus angka 3000.

Semoga lain waktu bisa berkesempatan sowan kembali ke beliau supaya banyak belajar lagi, dan bisa semakin istiqomah untuk mengisi blog ini. 😊

Jadi, sudah menuliskah bulan ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *