Uncategorized

Semoga Sayang itu Tetap Ada

Pagi itu, kamis, 14 Jumadal Ula 1441, tepatnya bada shubuh, agak kaget, ternyata perpisahan kami harus lebih awal dari waktu yang semestinya, tapi begitulah sunnatullah, bertemu berpisah, senang duka.

Perpisahan dengan Barnamij Muhimmatul ‘Ilm yang kesebelas, lebih cepat dari jadwal yang tertera, bahkan masih menyisakan 4 kitab yang belum tertuntaskan. Dan akhirnya kitab yang tersisa ini hanya dibaca sard (pembacaan tanpa ada penjelasan mendetail isi dan maksud penulis, bacaan cepat). Syaikh yang dalam keadaan yang kurang sehat mungkin memaksa kegiatan ini harus ditutup lebih cepat.

Ternyata dari peristiwa ini ada pelajaran tersirat (dikutip dari sebuah risalah yang ditulis oleh Al Akh Muhammad Abdullah Al ‘Iwajiy),

Kurang lebih begini isinya, “Bagi yang menghendaki ilmu, harus segera mengambilnya dari Masyaikh dan duduk bersama mereka, sungguh yang datang berusaha untuk hadir dalam dauroh (kali ini) belum berkesempatan membaca seluruh kitab dengan bacaan yang komprehensif secara menyuluruh, karena ada suatu hal yang tiba-tiba menghalangi, lalu bagaimana nasibnya mereka yang suka menunda-nunda untuk mengambil ilmu-ilmu ini juga menunda-nunda untuk ikut bermajlis bersama Masyaikh.”

***

Masih segar muqaddimah setiap sesi yang disampaikan beliau,

“فحدثني جماعة من الشيوخ وهو أول حديث سمعته منهم بإسناد كل إلى سفيان بن عيينة عن عمرو بن قابوس مولى عبد الله بن عمرو عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما أنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “الراحمون يرحمهم الرحمن، ارحمو من في الأرض، يرحمكم من في السماء”

“Telah meriwayatkan kepadaku sekumpulan guru sebuah hadits yang pertama kali aku dengar dari mereka, dengan sanad yang bersambung sampai Sufyan bin ‘Uyaynah, dari ‘Amr bin Dinar, dari Abi Qabus maula Abdillah bin ‘Amr dari Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang-orang yang penyayang, Allah akan menyayangi mereka, sayangilah yang di atas muka bumi, maka yang di langit pun akan menyayangi kalian”

Kemudian beliau melanjutkan, “Dan di antara kasih sayang yang begitu kuat itu, kasih sayang guru kepada murid-muridnya, …”

Inilah selalu yang menjadi pembuka di setiap sesi Barnamij Muhimmatul ‘Ilm, terkenal dengan Al Hadits Al Musalsal bil Awwaliyyah. Perawi dalam hadits musalsal seperti ini menyampaikan riwayatnya dengan sifat yang seragam, baik itu dalam bentuk ucapan ataupun perbuatan. Maka, hadits ini adalah hadits yang pertama kali diperdengarkan seorang syaikh perawi hadits kepada muridnya.

Tentu ada pesan tersendiri pastinya, ada risalah yang disampaikan, kalau sebetulnya ilmu itu adalah bentuk kasih sayang sesama pengampunya. Dengannya kehidupan menjadi lebih mempesona dan menjadi jalan hidayah bagi para pencarinya. Tanpanya, lisan akan tajam laksana pedang, arogansi pun terpancar, akhirnya pun saling cela dan mencari aib sesama. Perhiasan ilmu yang seharusnya nampak pun sirna, karena tak terpencar dengan kasih sayang.

Semoga sayang ini terus ada antar kita, aku dan kalian

***

✒ Afifi Marzuki Muslim

Kota Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam,
17 Jumadal Ula 1441 H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *