Uncategorized

Wujud “Notion” Anak Pondok

notion, notebook. catatan, santri

Cerita ini bermula dari pengalaman saya ketika mondok, masa SMP-SMA, di sebuah pesantren, yang cukup jauh menurut anak kota. Juga faktor sarana jalan raya yang masih rusak waktu itu, di awal-awal masa mondok.

Al Binaa, namanya. Kalau mau mampir boleh, ke website dulu aja di sini, karena masih pandemi seperti ini ya. Saya bukan nge-endorse atau ngiklan ya! 😀

Al Binaa, pondokku.
Al Binaa, pesantrenku
.
Source : https://albinaa.sch.id/galeri-al-binaa/

Pastinya, anak pondok itu, tak hanya sekedar belajar di kelas. Kegiatan ekskul, organisasi (yang kadang nggak cuma satu), kegiatan asrama, dan lain-lain.

Seabrek kegiatan di pondok tentu menguji kemampuan manajemen waktu. Waktu terbatas, dari bangun tidur sampai tidur lagi.

Saya banyak belajar sama senior-senior yang inspiratif. Jauh sebelum teknologi “notion” ini ada. Tahun 2016 tepatnya notion ini lahir. Tahun itu saya tamat pesantren. Hehe.

Kalau versi klaimnya, notion ini kan all in one workspace. Nah anak santri juga udah kenal “notion” ini meskipun mereka tak kenal gadget.

Ini dia “notion” ala anak pondok.

Notebook all in one workspace di versi anak pondok.
Dokumentasi : Ariangga Ramadhansyah
(Alumni Angkatan VI Al Binaa Islamic Boarding School)

Di buku seperti ini lah, ditampung semua isi kepala santri seperti saya ini. Di bawa kemana-mana gampang. Tinggal masuk saku baju atau gamis, beres.

Apa itu Isinya?

Tujuan utamanya, organizing semua urusan kegiatan sehari-hari di pondok sebetulnya. Ya persis deh seperti Notion itu, all in one workspace. Isinya pun gado-gado.

  • Dari jadwal kegiatan, terutama jadwal kumpul rapat. Kalau pas jadi pengurus Jamthol (baca : osis), bisa tiap malam rapat.
  • Tracking program atau jobdesc dari kegiatan atau event.
  • Bisa juga isinya, jadwal pelajaran ditambah tugas dan ujian.
  • Kadang, kalau nemu ide, dituangin juga lewat buku kecil itu. Paling enggak brainstroming sebelum dieksekusi.
  • Bahkan juga jurnal harian, (curhatan gitu misalnya hehe).
  • Catatan uang keluar masuk/tabungan.
  • Qoutes-qoutes yang keluar dari nasehat emas para ustadz.
  • CountDown perpulangan misalnya (yang ini jangan ditiru ya! Haha, kebahagian santri itu soalnya ketika libur pulang ke rumah. Tapi itu menjadi momen yang menyedihkan ketika menyandang gelar alumni, lingkungan terbaik itu ya di pondok).

Spoiler dikit ini! dokumentasi “notion” santri versi saya. (Maafkan kalau tulisannya berantakan, hehe).

Dokumentasi pribadi

Memang sih, gak semuanya anak pondok seperti ini. Tapi tentu tuntutan hidup yang agak keras dan otak pun dikuras, perlu memaksimalkan potensi yang ada. Salah satunya mengatur waktu sebaik mungkin. Ini versi saya untuk memaksimalkan waktu yang ada.

Hari ini, di tengah perkembangan dunia digital, ditambah tuntutan hidup yang terkadang menuntut untuk sedikit multitasking, terbantu dengan pengalaman di pondok.

Bedanya sekarang bukan lagi dengan model buku catatan yang selalu ada di saku baju. Tapi, handphone yang selalu ada di mana pun.

Kabar gembiranya, ternyata email premium dari kampus saya, Universitas Islam Madinah, memberikan kami “hadiah” khusus. Akses pro plan yang ada di platform Notion ini. Dari biaya langganan yang seharusnya US$4 menjadi GRATIS!

Masak sih tak dimanfaatkan? Sayang kan? Hehe.

Tampilan 1 Notion untuk perkuliahan saya di
Fakultas Syariah (Semester 6) Universitas Islam Madinah
Course Cards semester 6
Jadwal Kuliah dan Tracking Program

Akhiron

Semua orang punya caranya untuk mengekspresikan langkah-langkah produktifnya masing-masing. Yang terpenting maksimalkan semua potensi yang ada. Semoga kita bisa terus saling berbagi.

Mau templatenya? Klik di sini ya!
http://bit.ly/templateNotionSyariah6

6 thoughts on “Wujud “Notion” Anak Pondok

  1. ما شاء الله، بارك الله فيكم
    Terkadang ana lebih memilih yang konvensional saja supaya engga ter”distract” dengan hal-hal lain saat membuka gadget ustaz

    1. Yap, ana setuju dengan antum Ustadz Ariangga, poin ini. Di sini ‘ujian’nya ketika lewat gadget. InsyaAllah kita juga perlu latihan aja untuk menahan diri agar tak mudah terdistraksi. Baarakallahu fiikum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *